Asal-Usul Pagar Batu

by - Juli 24, 2017


Di ujung paling timur dari Pulau Madura terletak sebuah kota bernama Sumenep. Konon di kota itu terdapat sebuah desa yang sangat indah. Nama desa itu adalah Pagarbatu. Pagarbatu merupakan salah satu desa yang sangat makmur dan masyaraktnya hidup sejahtera. Semua hal itu dapat terwujud, karena Pagarbatu dipimpin oleh seorang kepala desa yang arif dan bijaksana.

Kepala desa yang memimpin desa Pagarbatu mempunyai seorang putri yang bernama Hasiyah. Karena kecantikannya, telah banyak pria yang mencoba melamar Hasiyah. Bukan sekedar pria biasa yang melamar Hasiyah, melainkan para walikota dari berbagai kota sekitar. Namun, dari banyak pria yang mencoba melamar Hasiyah tak satupun yang diterima olehnya. Rumor Kecantikan Hasiyah telah tersebar kemana-mana. Meskipun telah banyak pria terhormat yang mencoba melamar Hasiyah. Hasiyah lebih mencintai seorang pria biasa bernama Hasbalah. Pada suatu malam Hasiyah menemui Hasbalah dan bercinta dengan nya.

Akibat hubungan tersebut Hasiyahpun hamil. Setelah kejadian pada malam itu Hasbalah menghilang entah kemana. Karena takut aib itu diketahui masyarakat, maka Hasiyah berinisiatif untuk mencari  Hasbalah. Dalam perjalanan untuk mencari Hasbalah, Hasiyah bertemu dengan seorang pemuda yang sedang sembahyang di Mushollah. Ternyata pemuda yang sedang sembahyang tersebut adalah Hasbulah, kakak kandung dari Hasbalah. Hasiyah pun menceritakan semua kejadian yang telah terjadi antara dirinya dan Hasbalah. Setelah mendengarkan cerita Hasiyah, Hasbulah mengajak Hasiyah menemui Hasbalah, adiknya.

Hasbalah begitu terkejut melihat kehadiran Hasiyah. Hasiyah menceritakan semua keluh kesahnya kepada Hasbalah dengan pikiran bijaksana Hasbalah menasehati Hasiyah. Hasbalah menyuruh Hasiyah untuk kembali ke desa dan menunggu Hasbalah. Hasbalah berjanji kepada Hasiyah, dia akan menemuinya setiap malam. Hasbalah juga menyuruh Hasiyah untuk menitipkan bayi mereka jika lahir ke desa sebelah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang molek dari kandungan Hasiyah. Karena malu aib ini diketahui ayahandanya beserta orang-orang di desa, maka malam itu juga Hasiyah keluar membawa anaknya. Karena takut keburu diketahui orang, maka anak tersebut ditinggal saja di tengah hutan oleh Hasiyah. Perbuatan tak terpuji Hasiyah memang tak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Bagaimana bisa seorang ibu dengan teganya meninggalkan bayinya sendiri yang baru lahir di tengah hutan. Namun, beruntunglah bagi si bayi karena di hutan itu ada seorang penggembala kambing yang sedang menggembalakan kambingnya. Nama penggembala kambing itu adalah Ki Ambani.

Setiap hari Ki Ambani mengumbar kambingnya untuk mencari makan sendiri di tengah hutan. Namun ada yang aneh dalam pikirannya. Karena di antara kambing-kambing miliknya itu, ada satu kambing betina yang sering pulang terlambat dan badannya semakin hari semakin kurus saja. Karena penasaran dengan hal itu, maka diam-diam Ki Ambani membuntuti kambing yang bernama Karasak itu. Ternyata kambing tersebut pergi menemui seorang bayi yang ada di hutan itu. Saat ditemukan oleh Ki Ambani, Kambing Karasak sedang menyusui bayi itu. Maka dengan hati senang Ki Ambani membawa bayi itu pulang ke rumahnya. Kemudian oleh Ki Ambani bayi itu diberi nama Kafilah. Setelah menginjak remaja Kafilah, minta ijin kepada kakeknya Ki Ambani untuk mengembara mencari pengalaman hidup. Di tengah pengembaraannya ia bertemu dengan seorang Kyai yang sedang bersembahyang di dalam mushollah. Seorang Kyai itu tidak lain adalah pamannya yaitu Hasbulah. Dari Hasbulah, Kafilah baru tahu bahwa ia adalah seorang cucu kepala desa Pagarbatu. Oleh karena itu Kafilah bermaksud menemui ayahandanya dan kemudian pulang ke desa menemui ibundanya.

Setelah sampai di desa Pagarbatu, ternyata Pagarbatu sedang diserang oleh musuh yang sangat sakti dari Tolanga yang bernama Kamsur. Ia menyerang Pagarbatu karena lamarannya ditolak oleh Hasiyah. Kamsur menyerang Pagarbatu dengan memakai ilmu hitam. Dalam peperangan itu gugurlah seorang teman karib Kafilah yang bernama Sudungan dan dimakamkan di suatu tempat. Tempat itu sampai sekarang diberi nama Balandungan yaitu suatu tumpukan batu yang berada di sebelah selatan Desa Pagarbatu.

Karena Pagarbatu hampir kalah dalam peperangan, maka sebagai seorang cucu kepala desa Pagarbatu, Kafilah turun tangan, membantu para prajurit yang sedang menghadapi musuh. Dengan bantuan Kafilah pihak Pagarbatu menjadi kuat, dan pertempuran bertambah sengit. Kafilah menghadapi Kamsur yang mengendarai naga terbang di udara. Dalam menghadapi orang sakti dari Tolanga itu, Kafilah bersenjatakan Clurit emas. Dalam satu kali tebasan, maka hancurlah Kamsur bersama naga saktinya. Semua prajurit kamsur tewas terkena tebasan clurit emas Kafilah. Salah seorang teman karib Kamsur yang bernama Rangrang ditemukan tewas di suatu tempat, dan tempat itu sampai sekarang dinamakan Rangkarang. Rangkarang diambil dari nama rangrang yaitu kegiatan penduduk desa Pagarbatu mencari kepiting di pantai.

Setelah kemenangan itu, maka mulailah kemasyhuran nama seorang putra desa yaitu Kafilah. Dan Desa Pagarbatu kembali menjadi Desa yang aman, makmur dan sentosa lagi. Sementara itu yang terjadi di Kota Malang sebagai kota tempat tinggal paman Kafilah yaitu Hasbulah dirundung derita. Banyak gedung bangunan sekolah dan perguruan tinggi di Kota Malang rusak karena usianya yang sudah tua dan terkena gempa bumi. Walikota bermaksud membangun kembali gedung bangunan sekolah dan perguruan tinggi tersebut seperti sedia kala, megah seperti saat di bangun pertama kali oleh para insinyur Kota Malang. Para insinyur dan tenaga ahli lainnya dikumpulkan untuk membangun kota pendidikan tersebut, mereka bekerja siang malam secara bergiliran. Sehingga boleh dikata pekerjaan membangun Kota Malang itu tanpa henti, terus-menerus. Namun sungguh aneh, setiap kali gapura gedung sekolah itu selesai dikerjakan dengan sempurna yang sudah kelihatan indah dan megah itu tiba-tiba roboh berantakan.

Kejadian ini berulang-ulang hingga tiga kali. Lalu salah seorang tukang dari tim pembuat gapura itu berdoa mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, ia adalah seorang Kyai sakti dari Sumenep yang tidak lain adalah Ki Ambani kakek Kafilah yang merawatnya sejak kecil. Setelah beberapa malam sholat hajat ia mendapat bisikan gaib bahwa yang bisa menegakkan gapura gedung sekolah Kota Malang adalah cucunya sendiri yang berada di Sumenep, Madura yaitu Kafilah. Atas persetujuan Walikota Malang, Kafilah dipanggil ke kota Malang. Pemuda sederhana namun bertubuh tegap dan tampan ini langsung menyembah hormat saat tiba di hadapan Walikota Malang.”Benarkah kau sanggup menegakkan gapura gedung sekolah yang sedang kami bangun?” tanya walikota. “Saya akan berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada Tuanku.”

Keesokan harinya, Kafilah membantu para tukang untuk menegakkan gapura gedung sekolah. Kafilah ternyata sangat ahli di bidangnya. la mula-mula menganjurkan pondamen gapura diganti dengan batu-batu yang lebih besar dan kuat. Lalu ia sendiri meramu bahan perekat yang unik untuk menyusun batu-batu di atas pondamen itu. Kafilah bekerja keras siang dan malam. Sehingga menurut cerita dari mulut ke mulut disebutkan bahwa Kafilah dikubur di dalam tanah seperti orang meninggal lalu tanah yang menutupi tubuh Kafilah berubah menjadi cairan perekat. Akhirnya dengan bantuan Kafilah para tukang dapat membangun dan menegakkan kembali gapura gedung sekolah Kota Malang. Tentu saja walikota sangat gembira melihat kenyataan ini.

Untuk berterima kasih kepada Kafilah, Walikota Malang mengangkat Kafilah menjadi salah satu perwira tentara di kota malang. Kafilah merupakan seorang prajurit yang tangkas dan cekatan dalam memimpin pasukan. Setiap kali terjadi pemberontakan di Kota Malang, Kafilah mampu memadamkannya tanpa menjatuhkan banyak korban jiwa. Tidak aneh kalau Walikota sangat sayang kepadanya. la sering mendapat hadiah dari walikota. Karena Walikota sangat sayang kepada Kafilah, ada beberapa orang yang merasa iri hati kepadanya. Mereka yang merasa tidak senang itu menyebarkan isu bahkan fitnah bahwa kesetiaan Kafilah kepada Walikota hanya setengah-setengah. Kafilah berjuang bukan untuk kejayaan Kota Malang, tetapi sekadar mendapatkan hadiah dari walikota. Fitnah dan desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Walikota. Walikota sebenarnya ragu akan kebenaran berita itu. Walikota pun memutuskan untuk menguji kesetiaan Kafilah.Walikota memanggil Kafilah. Setelah Kafilah menghadap, Walikota mulai berbicara, “Kafilah, aku mempunyai seorang putri bernama Hania. Maukah engkau seandainya ia kujodohkan denganmu?” “Saya siap untuk dijodohkan dengan putri tuan”, jawab Kafilah dengan suara tegas.
‘Tetapi, apakah engkau tidak akan menyesal di kemudian hari?” tanya Walikota.
“Mengapa saya harus menyesal?” tanya Kafilah. “Ketahuilah,”kata Walikota menjelaskan, “putriku ini buta. Apakah engkau tetap mau mengawininya?”
“Saya tetap bersedia,” jawab Kafilah dengan suara mantap. Walikota tersenyum gembira mendengar jawaban Kafilah yang meyakinkan itu. Hati Walikota semakin mantap bahwa Kafilah memang seorang satria yang sangat setia kepadanya. Isu dan fitnah itu hanyalah bohong belaka.

Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Kafilah dengan Hania dirayakan di Balai Kota Malang. Ada bermacam-macam komentar atas pernikahan itu. Orang-orang yang tidak senang kepada Kafilah menganggap pengantin yang sedang bersanding merupakan lelucon yang tidak lucu. Karena mempelai pria gagah seperti Arjuna, sedangkan mempelai wanita kedua matanya buta. Pihak yang senang kepada Kafilah merasa tidak puas karena Kafilah yang besar jasanya kepada Kota Malang dinikahkan dengan putri yang buta. Menurut mereka, Kafilah sepantasnya dijodohkan dengan putri Walikota yang pal­ing cantik.

Setelah upacara dan pesta pernikahan itu selesai, Kafilah dan istrinya minta izin kepada Walikota untuk pulang ke Pagarbatu, Sumenep. Walikota mengizinkan mereka.Dengan diiringi beberapa prajurit dan para pembantu wanita dari Hania, Kafilah berangkat ke arah timur meninggalkan pusat pemerintahan Kota Malang yang indah permai. Meskipun Hania buta, Kafilah tetap menunjukkan rasa sayang kepada istrinya itu. Dalam perjalanan, ia selalu membelikan buah-buahan yang disukai Hania. Hania tidak menyangka Kafilah akan mencintainya sedemikian rupa.
Sesampainya di Pulau Madura, Hania ingin mandi. Kafilah sangat bingung karena di tempat itu tidak ada sungai ataupun sumur, yang ada hanyalah sebuah dam yang airnya telah kotor. Kemudian kafilah mengambil tongkat Hania dan melemparkannya ke dalam dam tersebut. Setelah tongkat itu diangkat, berubahlah air dam tadi menjadi jernih. Maka langsung Hania mandi dengan air jernih itu.
“Kanda Kafilah,” teriak Hania dengan gembira, “Sungguh ajaib! Saya sekarang bisa melihat.” Benarkah , Dinda? tanya Kafilah hampir tidak percaya. “Betul,” jawab Hania, “untuk apa saya berdusta. Lihatlah kedua mata saya. Saya sekarang sudah bisa memandang wajah Kanda.”Kafilah pun mernperhatikan mata istrinya. Tampak mata Hania sudah terbuka dengan biji mata seindah bintang kejora. Hati Kafilah sangat gembira. Mereka bersyukur atas karunia Tuhan yang tidak disangka-sangka ini. Air dam yang telah menjadi jernih itu akhirnya menjadi sumber air yang sangat besar. Tempat itu sampai sekarang disebut Dam-daman. Hal ini untuk mengingat kejadian ajaib di mana sepasang mata Hania yang tadinya buta bisa melihat karena air yang dam yang tadinya keruh itu menjadi jernih.

Di suatu tempat Hania ingin berganti pakaian. Untuk menutupi tubuhnya Hania mengenakan sebuah sarung. Namun, tanpa sengaja sarung itu terjatuh ke sungai. Mengetahui hal tersebut, Kafilah segera melompat ke dalam sungai mengejar sarung Hania yang terjatuh kedalam sungai. . “Ini sarungmu, Dinda!” Kata Kafilah. “Enggi Kanda”, jawab Hania. Sumber besar yang terletak di sebelah utara Desa Pagarbatu itu sampai sekarang disebut Saronggi. Kata Saronggi berasal dari kata Sarong dan Enggi, bahasa Madura, Sarong artinya sarung dan enggi artinya iya.
Setelah sampai di Pagarbatu, Kafilah disambut dengan gembira oleh ayah bundanya serta masyarakat Pagarbatu. Apalagi Kafilah membawa pulang seorang istri yang cantik jelita. Ibunda Kafilah Hasiyah sangat senang pada Hania. Selain cantik dan berkulit kuning langsat, istri Kafilah itu sangat pintar memasak. Setiap hari Hania membantu kesibukan Hasiyah di rumah. Itulah yang membuat Hasiyah sangat menyayangi Hania.
Kakek Kafilah dari pihak ibu bernama Hamsita adalah seorang Kepala Kelurahan yang memerintah Kelurahan Tlogomas. Pemerintahannya berada di bawah naungan wilayah Kota Malang. Setelah Hamsita memasuki usia tua, ada sekawanan bajak laut dari luar kota yang mengganggu wilayah perairan Malang. Lagi-lagi Kafilah mendapat tugas mengamankan wilayah tersebut. Dalam pertempuran yang sengit dengan bekal senjata clurit emas dari kakeknya akhirnya Kafilah dapat mengusir kawanan bajak laut tersebut. Walikota Malang ikut gembira mendengar keberhasilannya ini.

Atas jasanya ini Kafilah pun dinobatkan menjadi Lurah yang memerintah wilayah Kelurahan Tlogomas. Menggantikan kakeknya yang sudah berusia lanjut. Selain itu, Walikota Malang juga mengirim Kafilah ke Kota Yogyakarta untuk menambah ilmu kedigdayaannya agar ketahanan Kota Malang menjadi lebih kuat. Di bawah kepemimpinan Kafilah, masyarakat Tlogomas benar-benar mengalami jaman kemakmuran dan keadilan, karena pemimpinnya memang seorang gagah berani yang sabar, jujur dan adil.

“Nama Pagarbatu diberikan oleh Kafilah. Kafilah melihat rumah masyarakat kita ini dulu banyak menggunakan batu untuk membuat pagar rumahnya. Hal itu dilakukan karena daerah kita merupakan pesisir pantai, jadi penggunaan batu sebagai pagar dirasa cukup kuat untuk melindungi rumah masayarakat dari terpaan ombak laut. Itulah alasannya, mengapa daerah kita bernama Pagarbatu.” Akupun mengerti mengapa daerahku bernama Pagarbatu. Pagarbatu merupakan gabungan dari kata Pagar dan Batu.

Sumber: https://ensiklopedimadura.wordpress.com/2013/03/09/asal-usul-pagar-batu/

You May Also Like

0 komentar